Sekali Lagi Tentang Niat Puasa - Kalian Yang Memaksa Pake Bahasa Arab

 on Selasa, 17 Februari 2026  

Blog Article Template
Pemikiran

Sekali Lagi Tentang Niat Puasa - Kalian Yang Memaksa Pake Bahasa Arab

Sebuah refleksi tentang bagaimana kita bisa menemukan kedamaian di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern

A

Arya Wijaya

15 Desember 2024 · 5 menit baca

Ilustrasi: Ketenangan di pagi hari

Saya mulai blogging sejak 2011. Sebelum kenal blog saya sudah menulis tentang niat puasa yang saya bagikan dalam bentuk lembaran kepada santri dan takmir takmir musholla dan masjid.

Setelah kenal blog, saya jadikan tulisan itu menjadi salah satu artikel blog. Sudah banyak pula komentar yang saya terima. Ada yang bilang saya sok tau. Ada yang bilang artikel saya hanya bikin bingung orang awam saja. Yang terbaru ada yg menuduh cuma copas artikel orang lain.

Karena Kalian Berniat Memakai Bahasa Arab

Bagi saya masalah niat puasa ini sangat jelas seterang matahari. Jadi saya tidak perlu copas artikel orang lain. Saya tidak menyinggung keabsahan puasanya. Karena niat dalam bahasa apapun sah. Saya hanya menyoroti sisi tata bahasa Arabnya. Saya tulis, karena kalian berniat pake bahasa Arab. Bahkan disiar siarkan di televisi. Coba kalian niatnya pake bahasa Indonesia. Mungkin artikel ini ga perlu ditulis.

Ada lahn dalam niat kalian. Dan lahn tidak boleh dinormalkan. Harus dibetulkan. Maka sekali lagi saya tulis lagi tema ini mudah mudahan lebih difahami.

Lahn Dihindari Seperti Dosa

Lahn artinya keliru dalam pengucapan atau ucapan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Misalnya harusnya dibaca Allahu, tetapi dibaca Allaha.

Para generasi salaf menghindari lahn seperti menghindari dosa. Ayyub As Sakhtiyani seorang ulama salaf pernah membaca hadis tetapi lahn. Ketika menyadarinya, iya berkata astaghfirullah. Padahal istighfar itu hanya untuk dosa. Seakan akan Ayyub menganggapnya berdosa. Imam Asmu'i bahkan berpendapat, orang yang membaca hadis dengan lahn sama saja ia telah berdusta kepada Rasulullah.

Satu Satunya Niat Yang Betul

Ini adalah niat niat puasa yang beredar di banyak postingan :

Pertama : Ramadhona Hadzihis Sanati

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَة لله تعالى

Ini niat yang paling banyak dibaca orang. Namun sayangnya, ini niat yang paling menyimpang dari kaidah (paling lahn).

Kedua : Romadhona Hadzihis Sanata

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَة لله تعالى

Niat ini jarang dibaca, dan secara kaidah benar. Tetapi secara makna tidak ta'yin (tidak akurat).

Ketiga : Romadhoni Hadzihis Sanati

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَة لله تعالى

Ini satu satunya yang paling benar dari sisi tata bahasa dan dari sisi keakuratan makna.

Mengapa Yang Pertama Salah?

Karena Ramadhana diputus dari idhofah (tidak lagi menjadi mudhof). Sehingga tidak ada alasan untuk men-jar-kan hadzihis Sanati. Karena bukan lagi menjadi mudhof ilaihi.

Ada yang coba berteori bahwa Hadzihis Sanati di jarkan karena jadi badalnya Ramadhana. Wah malah kacau balau. Apalagi bila badalnya badal gholat.

Penjelasan seperti ini, insya Allah sudah cukup jelas bagi yang sudah belajar ilmu Nahwu.

Bagaimana dengan yang Kedua?

Ini masih terkait dengan penjelasan yang pertama. Karena Ramadhana sudah diputus dari idhofah, maka Hadzihis Sanah jangan lagi dibaca jar sebagai mudhof ilaihi. Caranya ? Baca saja nashob ! Hadzihis Sanata. I'rabnya sebagai dzorof zaman.

Secara kaidah bahasa Arab ini boleh dan benar. Tidak ada lahn. Hanya saja dari segi makna menjadi tidak akurat. Padahal syarat niat itu harus ta'yin (akurat). Mengapa tidak akurat ? Karena keterangan waktu (dzorof zaman) harus punya ta'lluq (kata kerja yang diberi keterangan). Nah ta'alluqnya adalah kata kerja 'nawaitu'. Sehingga artinya menjadi begini : Saya niat tahun ini. Menunjukkan bahwa pada tahun ini menjadi keterangan waktu bagi pengucapan niatnya. Sehingga lengkapnya menjadi seperti ini:

Pada tahun ini saya niat puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban ramadhan.

Disinilah letak ketidak akuratannya. Niatnya jadi memanjang sepanjang tahun. Coba baca niat itu di bulan Rajab. Pasti secara makna bisa juga.

Mungkin pembaca perlu mencerna sejenak makna niat itu. Bandingkan dengan niat ini, mana yang lebih akurat:

Saya niat puasa besok untuk menunaikan kewajiban ramadhannya tahun ini.

Bisakah dibaca di luar Ramadhan ? Di bulan Rajab misalnya. Tentu tidak bisa.

Masalah ini cukup samar bagi sebagian orang. Sehingga pengarang ianatut Thalibin berkata:

فليتأمل فإنه مما يخفى

Sekarang niat yang paling benar dan paling akurat adalah niat yang ketiga: Romadhoni Hadzihis Sanati — yang memenuhi syarat baik dari sisi tata bahasa Arab maupun dari sisi akurasi makna niat.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه قال تعالى الصوم لي وأنا أجزي به ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

#kesederhanaan #mindfulness #refleksi
A

Ditulis oleh

Arya Wijaya

Penulis dan praktisi mindfulness yang senang berbagi refleksi tentang kehidupan sehari-hari. Percaya bahwa kebahagiaan terletak pada hal-hal sederhana.

Ruang Baca

© 2024 · Tempat berbagi cerita dan pemikiran

Sekali Lagi Tentang Niat Puasa - Kalian Yang Memaksa Pake Bahasa Arab 4.5 5 subhan Selasa, 17 Februari 2026 Blog Article Template Pemikiran Sekali Lagi...


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Arsip Blog

Find Us On Facebook

Flickr Images

Video Of Day

Pages

Formulir Kontak



Cari Artikel

Pages

Blog Indonesia