Sekali Lagi Tentang
Niat Puasa Ramadhan
Karena Kalian Memaksa Berniat Dengan Bahasa Arab
Saya mulai blogging sejak 2011. Sebelum kenal blog saya sudah pernah menulis tentang niat puasa yang saya bagikan dalam bentuk lembaran kepada santri.
Setelah mengenal blog, saya jadikan tulisan itu menjadi salah satu artikel blog. Sudah banyak pula komentar yang saya terima. Alhamdulillah saya senang atas komentar komentar itu walaupun ada yang bernada negatif.
Ada yang berkomentar- saya sok tau. Ada yang bilang artikel saya hanya bikin bingung orang awam saja, bikin ribet. Padahal menurut saya mestinya mereka tidak awam, karena berniatnya saja pake bahasa Arab.
Yang terbaru ada yg menuduh artikel saya cuma copas artikel orang lain.
Karena Kalian Berniat Memakai Bahasa Arab
Bagi saya, persoalan niat puasa ini sebenarnya cukup jelas. Karena itu, saya tidak merasa perlu untuk menyalin pendapat orang lain (copas) dalam menjelaskannya.
Saya tegaskan, tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan keabsahan puasa siapa pun. Niat letaknya dihati. Karena itu niat dalam bahasa apa pun tetap sah.
Yang saya soroti hanyalah aspek tata bahasa Arabnya. Karena kalian mengucapkan niat dengan bahasa Arab. Bahkan disiar siarkan di televisi. Tentu wajar jika ada perhatian terhadap ketepatan bahasanya. Jika niat tersebut disampaikan dalam bahasa Indonesia, mungkin pembahasan seperti ini tidak perlu muncul.
1. Lahn Dihindari Seperti Dosa
Ada lahn dalam niat yang kalian baca. Dan lahn tidak boleh dinormalkan. Harus dibetulkan. Maka sekali lagi saya tulis lagi tema ini. Semoga bisa lebih difahami.
Lahn artinya keliru dalam pengucapan bahasa Arab, atau ucapan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Misalnya kata harusnya dibaca dommah, tetapi dibaca fathah.
Para generasi salaf menghindari lahn seperti menghindari dosa. Karena lahn bisa merusak makna secara fatal.
Ayyub As Sakhtiyani seorang ulama salaf pernah membaca hadis, tetapi ia lahn. Ketika menyadarinya, iya berkata astaghfirullah. Istighfar itu diucapkan untuk suatu dosa. Seakan akan Ayyub menganggap kesalahannya dalam membaca hadis itu berdosa.
Imam Asmu'i bahkan berpendapat, orang yang membaca hadis dengan lahn sama saja ia telah berdusta kepada Rasulullah.
2. Melafalkan Niat Puasa Yang Betul
Perlu diketahui ada beberapa redaksi niat yang sering dibaca ketika Ramadhan, antara lain :
Pertama : Ramadhona Hadzihis Sanati
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَـــةِ لله تعالى
Niat ini termasuk yang paling banyak dibaca oleh masyarakat. Namun demikian, secara kaidah bahasa, redaksinya justru paling jauh dari ketentuan yang benar (mengandung lahn).
Mengapa redaksi tersebut kurang tepat / salah?
Karena kata Ramadhāna tidak lagi menjadi bagian dari iḍāfah (tidak berstatus sebagai muḍāf). Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk menjadikan hādhihis-sanati dalam kedudukan jar (kasrah). Sebab ia bukan lagi muḍāf ilaih.
Apa yang menandakan Ramadhāna tidak lagi menjadi mudhaf ? Itu lihatlah harokat fathahnya. Ramadhān adalah isim ghair munsharif. Harokatnya ketika jar hanya ada dua kemungkinan:
- Bila fathah, berarti tidak ada mudhof ilaih dibelakangnya. Putus dari status idhofah.
- Bila kasrah, berarti ada mudhof ilaih dibelakangnya. Maka lafadz Ramadhān berstatus sebagai mudhof.
Kedua : Ramadhona Hadzihis Sanata
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَـــةَ لله تعالى
Niat yang kedua ini kurang populer. Meskipun pembahasannya ada di kitab I'anatut Thalibin. Dari sisi kaidah tata bahasa, redaksinya sudah benar. Kata Ramadhāna difathahkan, lalu kata hādhihis-sanata dinashobkan sebagai dzorof zaman (keterangan waktu). Maka tidak ada tarkib idhofah disitu.
Namun dari sisi makna, masih belum akurat menggambarkan apa yang dimaksud oleh yang mengucapnya. Masih belum ta‘yīn (belum spesifik/kurang akurat).
Hal ini karena kata hādhihis-sanata menjadi keterangan (dzorf). Dan setiap dzorf membutuhkan ta'alluq (kaitan kepada yang diterangkan). Ia ta'alluq kepada kata kerja nawaitu (saya niat). Sehingga bila diterjemahkan, menjadi seperti ini :
Pada tahun ini saya niat berpuasa besok untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan lillahi ta'ala
Perhatikan makna niat tersebut. Disinilah letak ketidak akuratannya. Niatnya jadi memanjang sepanjang tahun. Coba baca niat itu di bulan Rajab. Pasti secara makna bisa diterima juga. Pengertian seperti ini sudah dijelaskan dalam kitab I'anatut Thalibin sebagaimana nanti saya kutipkan teksnya.
Ketiga : Ramadhoni Hadzihis Sanati
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَـــةِ لله تعالى
Yang ketiga ini juga populer terutama dikalangan anak anak pesantren. Secara tata bahasa, redaksi niat ini benar. Dan dari sisi makna, sudah ta'yin. Maka niat ini adalah yang benar. Pada niat ini kata Ramadhani hadzihis-sanati adalah mudhof dan mudhof ilaih. Hadzihis-sanati tidak menjadi keterangan waktu, tetapi menjadi pengikat ramadhan.
Dari sisi makna, terjemah niat ini adalah :
Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhannya tahun ini lillahi ta'ala.
Pada lafadz ini, niat hanya diberi waktu menginap semalam sesuai dengan syarat niat puasa yang harus menginap (tabyiit).
3. Penjelasan Dari I'anatut Thalibin
Berikut ini saya kutipkan nash dari kitab I'anatut Thalibin karya Sayyid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha ad-Dimyathi :
3. Penjelasan Dari Segi Tata Bahasa
penutup artikel Anda di sini.
Ditulis oleh
Subhan Hidayat
Guru madrasah yang sesekali menuliskan refleksi sederhana dari ruang kelas dan perjalanan hidup, berharap setiap catatan kecil membawa manfaat.
This blog is created for educational purposes and to provide general information. All materials belong to their respective owners.
Situs ini dibuat untuk tujuan edukasi dan penyampaian informasi umum. Seluruh materi merupakan milik dari pemegang hak masing-masing.
Contact: subhi.link@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar