Muadzin, Imam Rawatib, Dan Tukang Parkir

 on Jumat, 07 Oktober 2016  

Ilustrasi
(gambar diambil dari alyaumimataram.blogspot.com )

Kisah tersisa dari lokasi bencana banjir bandang Garut.

Selama seminggu kami menggalang dana untuk membantu korban banjir bandang di Garut. Banyak dermawan yang datang memberikan dana. Ada juga yang menitipkan pakaian layak. Sudah bersih dan wangi. Ada yang memberikan bahan pangan (sembako.
 
Diantara para dermawan itu ada seseorang yang memberikan dua buah amplop. Cukup tebal, menandakan isinya banyak. Ia memberikan amplop itu dengan amanat khusus. Amanatnya adalah: 
mohon dicarikan muadzin dan imam sholat lima waktu (rawatib), kemudian berikan sedekah ini...
Saya terima amplopnya dan saya menyanggupi permintaannya. Tanpa pernah menduga bahwa amanat itu ternyata sulit dilaksanakan.

Saya dan tim dari LAZIS berangkat Ahad (02/10/2016), pukul setengah malam. Menjelang masuk Tarogong Garut, kami sholat shubuh berjama'ah bersama imam setempat. Saya teringat amanat itu. Apa saya serahkan disini saja ya...  entah kenapa hati saya belum tergerak. Mungkin karena belum sampai ke lokasi bencana. 

Tiba dilokasi bencana di Garut, saya tidak sholat berjamaah bersama warga setempat. Saya dan tim sholat berjamaah sendiri dengan menjamak dua sholat. Dhuhur dan Ashar kami laksanakan pukul dua siang. Karena itulah amanah tersebut tidak tersampaikan. kepada muadzin dan imam rawatib. 

Kegiatan di tempat bencana cukup melelahkan. Menuruni jembatan, menyusuri sungai dan menemui warga yang mendapat musibah. Semua bantuan yang kami bawa, langsung diberikan kepada para korban. Door to door. Ada yang tinggal di tenda tenda darurat juga.

Korban Banjir Garut
(arsip pribadi Subhan Hidayat)

Semua bantuan telah habis disalurkan. Tinggal dua amplop tadi.... 

Saya tidak bisa bergerak sendiri meninggalkan tim. Saya juga tidak bertanya kepada warga setempat dimana saya bisa bertemu imam dan muadzin. Entahlah...semuanya seperti sudah diatur... Mungkin kedua amplop ini adalah jawaban atas doa seseorang yang dikabulkan Allah. Hanya saja saya belum ketemu orangnya...

Menjelang maghrib, saya dan tim berangkat pulang. Tak lama kemudian terdengar adzan berkumandang. kami memutuskan untuk melakukan jama' taqdim disebuah masjid. Kami tiba dimasjid, sholat jama'ah maghrib tengah berlangsung. Kami tidak ikut berjamaah, karena akan berjama'ah sendiri. 

Sambil menunggu jamaah utama selesai, saya mengamati sang imam. Saya hafalkan warna bajunya, pecinya, wajahnya. Takutnya saya sholat dia pergi. Entah kenapa saya merasa cocok dengan imam ini.

Setelah sholat, sang imam memimpin dzikir. Sementara kami melakukan sholat jama' taqdim. Selama sholat, saya betul betul tidak khusu'. Saya mengawasi sang Imam. Ini kesempatan terakhir saya menyerahkan dua amplop itu....bila sang imam pergi, mungkin saya tidak bisa ketemu lagi dilokasi bencana. 

Ternyata benar... imam itu pergi. Saya pasrah..mungkin belum saatnya....

Tidak lama sang imam muncul lagi. Kali ini dia membawa alat pel. Saya masih sholat. Sekilas saya melihat dia mengepel masjid. Bukan main bapak imam ini...benar benar mengabdi di masjid....

Setelah mengepel, bapak imam tadi keluar lagi...sholat saya sebentar lagi selesai..mudah mudahan saya berhasil menemuinya.

Setelah sholat, saya langsung bangkit mengejar bapak tadi. Ternyata orangnya sudah tidak ada.. Saya memutari masjid untuk mencarinya. Tidak ada..!! . Saya ke toilet...tidak ada..!!  Akhirnya saya ketempat parkir. Saya melihat seorang tukang parkir membawa tongkat, memakai rompi kuning. Saya mendekatinya untuk bertanya mengenai keberadaan bapak imam tadi. 

Begitu mendekat, saya melihat sesuatu dibalik rompi kuningnya....

Ya...saya mengenali baju di balik rompi kuning itu. Itu baju yang dipake pak Imam tadi. Ternyata tukang parkir ini adalah bapak imam tadi. Saya takjub. Tetapi saya harus memastikannya.

Saya ajak salaman dia kemudian saya tanya : " Bapak, yang tadi jadi imam maghrib ya..." 

Kata dia :  Iya mas benar...ada apa ya..?

Saya bertanya lagi :  "bapak setiap hari menjadi imam disini...?"

Dia menjawab :  " iya mas..!.  Dalam hati saya langsung merasa cocok. Saya akan berikan satu amplop kepada dia. Tinggal mencari muadzinnya...barangkali dia kenal, akan saya titipkan sekalian.

Saya bertanya : " kalo muadzinnya yang mana pak..?"

Dia menjawab : " ...muadzinnya juga saya pak....setiap hari..."

Saya kaget...luar biasa orang ini. Imam Rawatib juga....muadzin juga...tuakng pel juga...tukang parkir juga..

Langsung saya berikan amplop tadi kedua duanya. Saya katakan : "Pak...ini ada titipan amanat...saya berikan ke bapak mohon diterima..." 

Orang tadi menerima kedua amplop tadi dengan mata berkaca kaca. Dia berkali kali mengucapkan terima kasih. Saya lega. Semoga saya benar benar menyampaikan amanat ke orang yang tepat. Semoga sampainya sedekah ini ketangannya adalah jawaban atas doa doanya kepada Allah. Atau karena keikhlasannya mengurus masjid. 

Saya dan tim kemudian melanjutkan perjalanan pulang.

Wallahu A'lam bish Shawaab

Cerita ini saya sampaikan khususnya untuk beliau yang telah menitipkan amanat kepada saya. Laporan pak, amanatnya sudah saya sampaikan kepada orang tersebut. Mudah mudahan amal ibadah bapak diterima Allah Swt, dan diberi ganjaran yang besar.  Amin. 


Muadzin, Imam Rawatib, Dan Tukang Parkir 4.5 5 subhan Jumat, 07 Oktober 2016 Banjir Garut, Korban Garut Ilustrasi (gambar diambil dari  alyaumimataram.blogspot.com  ) Kisah tersisa dari lokasi bencana banjir bandang Garut. Selama se...


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Find Us On Facebook

Flickr Images

Video Of Day

Pages

Formulir Kontak



Cari Artikel

Pages

Blog Indonesia