Khutbah Jum'at tentang refleksi atas fenomena pelecehan seksual yang belakangan ini terjadi di pesantren dan ajakan untuk memperbanyak dzikir serta introspeksi diri.
Khutbah Jum'at
Refleksi Atas Fenomena Pelecehan Seksual
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته .
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيقًا لِلْهُدَى وَالرَّشَادِ، وَأَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالْإِخْلَاصِ فِي الْعِبَادَةِ وَالْجِهَادِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُنَزَّهُ عَنِ الشَّبِيهِ وَالْأَنْدَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْقَائِمُ بِأَمْرِ رَبِّهِ بِلَا وَهْنٍ وَلَا ارْتِيَادٍ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَارِ الْأَمْجَادِ.
أَمَّا بَعْدُ، أوْصُيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ .
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْه .
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa., karena kita masih diberikan nikmat yang tiada tara. Terutama nikmat iman dan Islam, nikmat sehat wal afiat, sehingga kita masih bisa hadir di masjid yang mulia ini dalam rangka menunaikan kewajiban Ibadah Jum’at.
Shalawat dan salam, marilah kita panjatkan kehadirat nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jurang kegelapan menuju istana terang benderang penuh cahaya Islam
Hadirin, Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Mengawali khutbah, khatib berwasiat untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Hadirin sidang jum’at rahimakumullah
Akhir-akhir ini, rumah rumah kita dipenuhi oleh pemberitaan yang sangat memprihatinkan, yaitu maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Hal yang membuat hati kita tersayat dan dada terasa sesak adalah ketika perbuatan keji tersebut terjadi di lingkungan Pesantren, oleh oknum yang mengaku ulama atau kiai.
Disisi lain, kita tidak bisa memungkiri adanya fenomena bias media, framing. Di mana ketika kasus ini terjadi di pesantren dan menimpa tokoh agama, pemberitaannya digoreng sedemikian rupa, diblow-up berhari-hari, seolah-olah seluruh pesantren itu buruk. Sementara jika terjadi di institusi lain, misalnya pelecehan di rumah sakit, di perusahaan, di universitas, pemberitaannya cenderung biasa saja atau cepat hilang dari perbincangan.
Kendati demikian, kita tidak boleh defensif atau menyangkal. Kita akui noda itu memang ada.
Jamaah Jum'at yang Dimuliakan Allah
Maka melalui khutbah ini, khatib ingin menyampaikan pesan dan wasiat kepada siapa saja yang hari ini diberikan amanah suci oleh Allah SWT sebagai penjaga, pendidik, dan pengasuh santri atau anak-anak didik. Mari kita mawas diri. Mari melakukan muhasabah internal yang jujur bagi kita semua, agar kita senantiasa waspada, tidak terperosok ke dalam jebakan serta tipu daya setan yang terkutuk.
Jamaah Sidang Jum'at yang Dimuliakan Allah
1. Tutup segala potensi fitnah
Dalam kitab Adabul Alim, KH Hasyim Asy’ari dalam wasiyatnya kepada guru yang ke 12, beliau berkata :
Pernah terjadi ketika Nabi ﷺ sedang berjalan malam bersama istrinya, Safiyyah bint Huyayy. Lalu ada dua sahabat Anshar melihat beliau. Mereka segera mempercepat langkah karena segan kepada Nabi ﷺ. Nabi lalu memanggil mereka dan berkata:
Mereka menjawab: “Subḥānallāh wahai Rasulullah!” (maksudnya: kami tidak mungkin berprasangka buruk kepada Anda)
Lalu Nabi ﷺ bersabda bahwa setan mengalir pada diri manusia seperti aliran darah, dan beliau khawatir setan melemparkan prasangka buruk ke hati mereka.
Makna dan pelajaran pentingnya:
- Menutup pintu prasangka Nabi ﷺ sengaja menjelaskan siapa wanita yang bersama beliau agar tidak muncul dugaan buruk.
- Kadang seseorang perlu menjelaskan keadaan dirinya, bukan karena bersalah, tetapi untuk mencegah salah paham.
2. Mari menyadari bahwa kita memiliki nafsu
Kita harus jujur dan sadar bahwa seorang ustaz, kiai, maupun guru ngaji adalah manusia biasa yang tidak maksum. Kita tidak suci dari nafsu syahwat. Kita wajib menjaga batasan fisik dan visual dengan santri, jangan memanipulasi doktrin takzim, dengan dalih "ketaatan kepada guru" atau "keberkahan ilmu" demi memuluskan hawa nafsunya.
Jauh-jauh hari, para ulama salaf yang saleh telah memberikan peringatan yang sangat keras agar para pendidik menjaga jarak dan pandangannya dari anak didiknya yang muda yang rupawan, baik laki laki maupun perempuan. Dalam istilah fikih ada yang disebut sebagai Al-Murd (remaja yang belum tumbuh jenggot). Para ulama sangat menjaga diri terhadap al murd sebagaimana menjaga diri dari santri perempuan.
Sebagian tabiin dengan tegas menyatakan bahwa para pendidik terdahulu sangat membenci dan melarang keras seorang guru memandang dengan tajam atau berlama-lama kepada santri atau anak didik yang berwajah rupawan.
Perhatikan bagaimana tabiin mulia, Hasan bin Zakwan rahimahullah memperingatkan kita::
Salam bin Aswad melihat seorang guru memandangi santrinya yang rupawan. Maka Ia menegurnya :
An-Najib bin As-Sari rahimahullah juga menukil perkataan ulama terdahulu:
Mengapa para ulama seketat ini dalam menjaga batas? Imam Sufyan Ats-Tsauri dan Bisyr Al-Hafi memberikan jawaban yang sangat menggetarkan jiwa kita sebagai guru:
Sikap tegas dan tanpa kompromi ini dicontohkan langsung oleh Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas.
Beliau dengan sangat ketat melarang anak-anak amrad yang rupawan untuk masuk dan duduk mendekat di majelis ilmu beliau guna mendengarkan hadis. Suatu ketika, seorang pemuda bernama Hisyam menyamar dan bersembunyi di tengah kerumunan orang banyak untuk mencuri dengar. Ketika Imam Malik mengetahuinya, beliau tidak membiarkannya, melainkan langsung menghukumnya dengan mencambuknya sebanyak 16 kali cambukan demi menjaga wibawa majelis dan menutup pintu fitnah."
Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah
Subhanallah! Jika para ulama sekaliber Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, dan para tabiin yang hatinya bersih saja begitu takut, begitu gemetar, dan begitu ketat menutup pintu fitnah syahwat terhadap anak didik, maka bagaimanakah dengan kita di zaman modern ini? Kita yang hatinya penuh dengan kelalaian, yang konsumsi visualnya kurang terjaga, tentu harus melipatgandakan kewaspadaan kita!
3. Waspadalah Terhadap Tipu Daya dan Godaan Setan
Allah berfirman :
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KE-2
الْحَمْدُ لله حَمْداً كَثِيْراً كَمَا أمَرَ .
أشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ إرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرْ . وأشهد أنَّ سيدَنا محمداً عبدُه ورسولُه سيِّدُ الْخلائقِ وَالْبَشَرْ. صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه مَصَابِيْحِ الْغُرَرْ .أما بعد :
فياَ أيُّها الْحَاضِرون أوْصِيْكُمْ ونَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ قَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْم أعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَان الرَّجِيْم. بسم الله الرحمن الرحيم. ﴿ إنَّ اللهَ ومَلائِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النبي. يا أيُّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْماً ﴾ .
اللهمّ انْصُرْ أمَّةَ سَيِّدِنَا محمد. أللهم أصْلِــحْ أمةَ سيِّدِنا محمد . أللهم ارْحَمْ أمةَ سيدنا محمد .
عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ . وَإِيْتاَئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذْكُرُوْن . وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر .أَقِيْمُوْا الصَّلاَة
Tidak ada komentar:
Posting Komentar